Aku menyetir menuju Hometown Dinner.
Tempat SMA West Danton akan menyelenggarakan reuni akbar. Karena suara hujan
begitu menggangguku, kuputuskan untuk menyalakan radio mobilku.
And life is a road
that I want to keep going
Love is a river
I wanna keep flowing
Life is a road
now and forever
wonderful journey
that I want to keep going
Love is a river
I wanna keep flowing
Life is a road
now and forever
wonderful journey
At
The Beginning. Lagu favoritku. Seraya lagu itu mengalun, pikiranku kembali
ke empat tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA.
“Hai! Ngapain kamu sendirian di
sini?” tanyaku.
“Tidak apa-apa.” jawab laki-laki itu
singkat.
Aku kemari karena tertarik oleh ekspresi
laki-laki itu. Ekspresinya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti.
Aneh. Tapi selain itu, tanpa aku sadari, aku terpesona oleh penampilan
laki-laki itu.
Daniel Liandu. Laki-laki keturunan
Asia – mungkin Cina atau Jepang, pikirku – tapi memiliki bola mata abu-abu
cerah. Aku heran dari mana Daniel mendapatkan sepasang bola mata yang – menurutku
– sangat indah itu. Dari dulu, aku selalu mendambakan perawakan orang Kaukasia
yang memiliki bola mata yang berwarna-warni. Tidak cokelat seperti milikku.
“Ekspresimu… seram, tahu!” ucapku sambil
duduk di sebelahnya. “Aku sarankan kamu jangan memasang ekspresi seperti itu
saat perkenalan di kelas nanti. Bisa-bisa kamu tidak punya teman, loh!”
“Apa urusanmu di sini?” tanyanya
dingin. Tanpa menoleh ke arahku.
Aku hanya mengangkat bahu. “Tidak
tahu. Mungkin aku tertarik olehmu… oleh ekspresimu. Dan bola matamu.”
Daniel tersenyum sinis. Tapi bagiku,
itu malah membuatnya terlihat semakin sempurna. Tak diduga ternyata wajah
Daniel begitu tampan.
“Well,
kalau itu yang membuatmu tertarik padaku, lebih baik kamu segera pergi. Aku
tidak tertarik pada perempuan sepertimu.”
“Perempuan seperti apa?”
“Sepertimu.”
“Aku seperti apa memangnya?”
“Orang yang menilai hanya dari
luarnya saja. Tertarik oleh bola mataku…” pikiran Daniel melayang. “Kukatakan
satu hal. if you like or even love
someone because their physical looks, what will you do when it’s gone? Removing them from your life?”
“Apa itu pengalaman pribadi? Karena
apa yang barusan kamu katakana adalah pemikiran orang yang menilai orang lain
dari luarnya saja. Kau tidak mengenalku.” sambil berkata begitu, aku beranjak
pergi.
“Orang itu menyebalkan. Sangat
menyebalkan lebih tepatnya. Apa pula yang ia maksud dengan perempuan sepertiku?
Huh. Aku menyesal telah mengajaknya berbicara!” gerutuku sambil berjalan ke kelas drama.
“Hey, Alyssa! Kenapa wajahmu itu?
Kalau wajahmu kusut seperti itu, aku yakin Stephen akan ragu mendekatimu.” sapa
Viola, teman baikku.
“Dengar, Viola sayang, aku baru saja
bertemu dengan orang yang paling menyebalkan se-SMA West Danton!” seruku sebal.
“Hahaha. Kau baru saja bertemu
dengan Mikaela? Atau Jeremy?”
“Tidak. Lebih parah dari mereka.
Murid baru. Dia mulai masuk ke sini beberapa hari lalu. Tapi ia baru hari ini
memulai kelasnya. And just so you know,
aku tahu informasi ini dari Mrs. Jen. Bukan karena aku mencari informasi
tentangnya atau apa.”
“Ah! Aku tahu! Daniel something itu kan? Dia terkenal loh.
Murid pindahan dari Shanghai. Katanya ia sangat pintar. Ia pindah ke sini
karena ibunya menikah lagi dengan warga sini. Mr. Gorgon itu loh…” jelas Viola
panjang lebar.
Aku mengangguk. Lalu tanpa sengaja,
aku menangkap bayangan laki-laki tinggi menyebalkan itu. Awas saja si Daniel itu. Aku sebagai school committee tidak akan mau
membantunya!
“Alyssa! Lihat apa yang aku bawa untukmu!”
teriak seorang laki-laki dari belakang. Stephen. Kapten tim futbal. Tampan, dan
pintar. Idaman setiap siswi West Danton.
“The
prince charming is coming…” seru Viola dengan nada melebih-lebihkan. “Lys,
lebih baik kamu jangan memikirkan Daniel itu. Nanti kamu naksir padanya!” kata
Viola jahil yang kemudian aku balas dengan cubitan kecil yang membuatnya
menjerit tanpa suara.
“Tadaaaaa… aku membelikanmu ini. Aku
dengar dari Viola kalau kau menginginkannya.” kata Stephen sambil menunjukkan
sebuah buku lama berjudul Love, As It
Goes Away karya Jason Belford.
“Violaaa! Kapan kamu akan berhenti
melaporkan setiap buku yang aku inginkan pada Stephen??” gerutuku.
“Bukan salah Viola, Lys. Aku
mendengar sendiri ketika kamu bercerita padanya minggu lalu. Lagipula, buku ini
kutemukan di toko buku bekas. Harganya juga murah. Jadi it’s nothing…”
“Ya sudahlah. Terima kasih, Stephen.
Lain kali kalau kau perlu sesuatu, bilang saja padaku.” ucapku tulus.
“Kalau aku menginginkan jawaban atas
pernyataan cintaku, bisakah aku mendapatkannya?” tanyanya setengah bercanda.
“Bisa saja…” jawabku. “It’s a yes.”
“Wah, benarkah? Terima kasih, Alyssa
Montez. I promise to love you every
minute of forever!” kata Stephen sambil mencium bibirku.
“Dasar kau, Raja Menggombal! You quoted it from Twilight, did you?”
Stephen tertawa kecil. “Aku tahu kau
mengidolakan vampir bersinar itu. Dan mungkin aku bisa jadi your very own Edward Cullen. Bagaimana?”
“Hahaha. Kamu bahkan tidak mirip
sama sekali dengan Edward, Stephen!” tawaku meledak mendengar ucapan gombal
pacar baruku.
“Oke, hentikan percakapan kalian.
Aku sudah cukup lama menjadi kambing congek di sini. Dan aku tidak mau itu
berlangsung lebih lama lagi.” gerutu Viola. “Ayo, Lys. Ucapkan selamat tinggal
ke pacar barumu yang norak itu. Kelas drama menunggu kita!”
Aku tertawa kecil.
“Bye, Lys!”
Itu adalah kali terakhir aku bertemu Stephen.
Perpisahan pertamaku sebagai pacarnya, sekaligus yang terakhir. Kejadian
berikutnya sungguh tidak terduga. Ia berlatih futbol seperti biasa, dan aku di
kelas drama bersama Viola, berlatih untuk pentas saat Prom.
Terdengar suara tembakan dari arah
lapangan futbol. Para murid langsung berhambur keluar tanpa memedulikan siapa
yang sedang mengajar mereka. Aku dan Viola-pun demikian. Tidak peduli Mrs. Jen
meneriaki kami untuk kembali ke kelas.
Di lapangan, aku melihat rumput yang
telah ternoda darah. Darah segar. Darah itu berasal dari kepala Stephen. Dan di
sebelahnya tampak orang asing yang berpakaian serba hitam membawa sebuah
pistol.
Aku terlalu syok untuk berpikir.
Tapi aku yakin aku mendengar beberapa kata seperti pencuri, penjahat, polisi,
salah sasaran, dan Stephen McQuay. Setelah itu, aku tidak mendengar apa-apa
lagi. Duniaku menjadi hitam. Begitu aku sadar, aku sudah berada di pemakaman
Stephen.
Well, tell me whether it is good or bad. :)
Thank you!









